Laro Bocah sebagai Upaya Pemertahanan Kesenian Terbang Laro di Kabupaten Pasuruan
DOI:
https://doi.org/10.17977/um064v5i82025p937-952Keywords:
musik hadrah, ular-ular kaweruh, keberlanjutan kesenian, regenerasi, pembinaan senimanAbstract
Pertunjukan Terbang Laro merupakan kesenian khas Kabupaten Pasuruan. Istilah terbang merujuk pada alat musik pukul yang juga dikenal sebagai rebana dan lazim digunakan dalam acara keagamaan, seperti sholawatan. Sementara itu, laro berasal dari kependekan ular-ular kaweruh yang bermakna menyalurkan atau memberikan pengetahuan dan keteladanan. Dengan demikian, Terbang Laro adalah kesenian yang memadukan iringan musik hadrah, tarian, serta seni peran. Selain menghadirkan nilai estetika, kesenian ini juga sarat dengan nilai edukatif yang bermanfaat bagi kehidupan. Namun, dalam perkembangannya, eksistensi Terbang Laro mengalami kemunduran sehingga diperlukan upaya pelestarian. Salah satu strategi yang dilakukan para seniman Pasuruan adalah menciptakan Laro Bocah sebagai bentuk inovasi untuk mempertahankan keberlanjutan kesenian tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan upaya pemertahanan Terbang Laro melalui Laro Bocah dengan pendekatan kualitatif menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta verifikasi data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Laro Bocah berperan sebagai bentuk pemertahanan Terbang Laro melalui rekonstruksi pertunjukan dan regenerasi seniman lewat program pembinaan.
References
Amin, Y. S., Mardikantoro, H. B., & Syaifudin, A. (2017). Pemertahanan bahasa Jawa dalam kesenian kuda lumping di Banjarnegara.
Aprilina, F. A. D. (2014). Rekonstruksi tari Kuntulan sebagai salah satu identitas kesenian Kabupaten Tegal. Jurnal Seni Tari, 3(1), 8.
Dhohirrobbi, A., Nafsi, B. I., & Amin, S. (2024). Eksistensi kebudayaan terbang gandul masyarakat Desa Watuagung Kabupaten Pasuruan. Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, 3(1), 57–66. https://doi.org/10.18860/dsjpips.v3i1.7056
Elvandari, E. (2020). Sistem pewarisan sebagai upaya pelestarian seni tradisi. GETER: Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik, 3(1), 93–104. https://doi.org/10.26740/geter.v3n1.p93-104
Erwianto, D. R. (2016). Pemaknaan keturunan langsung (p. 45).
Hadi, Y. S. (2007). Kajian tari: Teks dan konteks (Cetakan 1). Pustaka Book Publisher.
Hidajat, R. (2008). Seni tari (3rd ed.). Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.
Hidajat, R. (2013). Kreativitas koreografi. Surya Pena Gemilang.
Koentjaraningrat, R. M. (2003). Pengantar antropologi. Aksara Baru.
Mawadda, A. I., & Dana, I. W. (2023). Kajian hasil rekonstruksi tari Opak Abang di Kabupaten Kendal. Dance and Theatre Review, 6(1), 13–25. https://doi.org/10.24821/dtr.v6i1.9337
Muslihah, N. N., Dewi, R., & Puspitasari, L. (2018). Pemertahanan bahasa Sindang pada masyarakat Kota Lubuklinggau. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP), 2(1), 106–118. https://doi.org/10.31539/kibasp.v2i1.458
Muttaqien, M. W. (2015). Penghayatan simbolisasi Lingga-Yoni (Studi etnografi simbolik-interpretatif pada penghayat kepercayaan Padepokan Suroloyo). Eprints. http://repository.ub.ac.id/id/eprint/121691
Nahak, H. M. I. (2019). Upaya melestarikan budaya Indonesia di era globalisasi. Jurnal Sosiologi Nusantara, 5(1), 65–76. https://doi.org/10.33369/jsn.5.1.65-76
Nurhidayah, Y. (2017). Revitalisasi kesenian tari topeng sebagai media dakwah. Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies, 11(1), 21–52. https://doi.org/10.15575/idajhs.v11i1.1526
Nursyahida, A. M., & Wardana, A. (2020). Makna dan nilai spiritual musik hadrah pada komunitas Hadrah El-Maqoshid. DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi, 9(1), 26–36. https://doi.org/10.21831/dimensia.v9i1.38927
Opsantini, R. D. (2014). Nilai-nilai Islami dalam pertunjukan tari sufi pada grup "Kesenian Sufi Multikultur" Kota Pekalongan.
Putikadyanto, A. P. A., & Sefrianah, N. A. (2019). Kegiatan keagamaan dan pamali hari Kamis berjualan di Kabupaten Pasuruan. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 4(1), 11.
Saputra, Y., & Azmi, M. (2021). Latar alam geomorfologis peristiwa perang gerilya Jenderal Besar Sudirman (1948–1949). Langgong: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(1), 10–22. https://doi.org/10.30872/langgong.v1i1.531
Soedarsono, R. M. (2010). Seni pertunjukan Indonesia di era globalisasi (Edisi ketiga). Gadjah Mada University Press.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif. ALFABETA.
Supriyono. (2011). Pengetahuan komposisi tari (Edisi pertama). Bayumedia Publishing.
Suryanti, A. A. (2019). Upaya Laboratorium Remo Surabaya (LRS) dalam mempertahankan eksistensi tari Remo, 2(12).
Suseno, F. M. (1984). Etika Jawa. PT Gramedia.
Syahroni, D. B., & Irawan, C. (2022). Kesenian Glipang Rhodat di Desa Nguter Kecamatan Pasirian Lumajang Jawa Timur dalam perspektif etnomusikologis, 18(2).
Wulansari, A., & Hartono, H. (2021). Regenerasi kesenian kuda lumping di Paguyuban Langen Budi Setyo Utomo. Jurnal Seni Tari, 10(2), 185–196. https://doi.org/10.15294/jst.v10i2.46932
Yustika, M., & Bisri, M. H. (2017). Bentuk penyajian tari Bedana di Sanggar Siakh Budaya Desa Terbaya Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus Lampung.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dyah Ayu Catur Rini, Tri Wahyuningtyas

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.























