Makna Simbolik Gerak Tari Pedhanyangan Kapal Kandas pada Ritual Bersih Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang

Authors

  • Puspita Nur Cahyaningrum Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
  • Tri Wahyuningtyas Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
  • Tutut Pristiati Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

DOI:

https://doi.org/10.17977/um064v5i32025p285-298

Keywords:

Makna Simbolik, Gerak Tari Pedhanyangan, Ritual, teknik Mapak, filosofi tari Malang

Abstract

Tari Pedhanyangan merupakan tari yang wajib ditampilkan saat acara ritual bersih Desa Jatiguwi. Desa Jatiguwi merupakan salah satu desa yang masih melestarikan ritual setiap tahunnya. Pada ritual tersebut terdapat Tari Pedhanyangan yang digunakan sebagai sarana ritual dengan tujuan untuk mengucapkan rasa syukur atas nikmat Tuhan dan mengharapkan agar Desa Jatiguwi terhindar dari bencana serta diberikan kesejahteraan, dan kerukunan pada setiap warganya. Setiap gerakan yang terdemonstrasikan dalam Tari Pedhanyangan mengandung makna yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan makna simbolik gerakan pada Tari Pedhanyangan Kapal Kandas selama ritual bersih Desa Jatiguwi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa makna simbolik Tari Pedhanyangan Kapal Kandas yang terdiri dari beberapa ragam gerak yang memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus berani mengambil tindakan apapun meskipun beresiko agar mencapai kesuksesan dalam pemerintahannya. Keberanian seorang pemimpin digambarkan dalam gerak Gobesan atau dalam filosofi Tari Malang terdapat pada teknik Mapak (Menghadap atau ngadep).

References

Akter, S. (2016). Symbolism: Theory, function, characteristics and dimension. Ms. Rasheda Irshad Nasir Professor Dept. of Sociology, 1–23.

Bloom, N., & Van Reenen, J. (2013). 済無. NBER Working Papers, 89. http://www.nber.org/papers/w16019

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.

Darwis, M. (2017). Makna simbolik Tari Riringgo di Kabupaten Luwu Timur. Digilib Unhas, 58. https://core.ac.uk/download/pdf/141541555.pdf

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2018). The SAGE handbook of qualitative research (5th ed.). SAGE Publications.

Fatmasari, I., & Murcahyanto, H. (2021). Keselarasan gerak, iringan, dan busana pada Tari Dewi Saraswati. TAMUMATRA: Jurnal Seni Pertunjukkan, 3(2), 57–66. https://doi.org/10.29408/tmmt.0302.3741

Haris, A., & Amalia, A. (2018). Makna dan simbol dalam proses interaksi sosial: Sebuah tinjauan komunikasi. Jurnal Dakwah Risalah, 29(1), 16. https://doi.org/10.24014/jdr.v29i1.5777

Hartono, L. B. (2007). Struktur simbolik Tari Topeng Patih pada pertunjukan dramatari Wayang Topeng Malang di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang [Tesis, Universitas Negeri Malang].

Heswati, V. A. (2021). Makna simbolik Tari Reyog Kendhang di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung: Kajian folklor. Nuevos Sistemas de Comunicación e Información, 2013–2015.

Hidajat, R. (2013). Kreativitas koreografi. Surya Pena Gemilang.

Hidajat, R. (2017). Beskalan: Asal usul, teknik, dan makna seni pertunjukan tradisional di Malang, Jawa Timur. Universitas Negeri Malang.

Koentjaraningrat. (2009). Metode-metode penelitian masyarakat. Gramedia.

Kurniyawan, A. W., & Utina, U. T. (2019). Makna dan fungsi ricikan pada busana Wayang Wong gaya Surakarta. Jurnal Seni Tari, 8(2), 176–185. https://doi.org/10.15294/jst.v8i2.32477

Maswita, M. (2021). Tradisi makanan bubur pedas pada masyarakat Melayu Batubara: Suatu kajian antropologis. Jurnal Normatif, 1(1), 43–48.

Moleong, L. J. (2019). Metodologi penelitian kualitatif (Revisi ed.). PT Remaja Rosdakarya.

Mustajab, A. (2012). Strategi dalam menjaga keabsahan data pada penelitian kualitatif. Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia, 1(2), 153–192.

Neonnub, F. I., & Habsari, N. T. (2017). Belis: Tradisi perkawinan masyarakat Insana Kabupaten Timor Tengah Utara. Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya, 08(1), 107–126. http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JA/article/viewFile/2035/1489

Nopianti, R. (2017). Makna ritual Mulud dalam mewujudkan nilai-nilai budaya Islam.

Pianto, H. A., Hadi, S., & Nurcholis, A. (2023). Tradisi tumpengan: Simbol kehidupan masyarakat Jawa. Bandar Maulana: Jurnal Sejarah Kebudayaan, 27(1), 58–65. https://doi.org/10.24071/jbm.v27i1.5807

Rahayu, N. T., Setyarto, S., & Efendi, A. (2014). Model pewarisan nilai-nilai budaya Jawa melalui pemanfaatan upacara ritual. Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(1), 55–69.

Rumahuru, Y. Z. (2018). Ritual sebagai media konstruksi identitas: Suatu perspektif teoretis. Dialektika: Jurnal Pemikiran Islam dan Ilmu Sosial, 11(1), 22–30.

Saadah, M., Prasetiyo, Y. C., & Rahmayati, G. T. (2022). Strategi dalam menjaga keabsahan data pada penelitian kualitatif. Al-'Adad: Jurnal Tadris Matematika, 1(2), 54–64.

Studi, P., Bahasa, D., Departemen, I., Budaya, M., & Vokasi, S. (2015). Ritual pembuatan gamelan di Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo.

Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta.

Suharto, B. (1999). Tayub: Pertunjukan dan ritus kesuburan. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Wido Minarto, S., & Desta Rahmanto, K. (2020). Topeng Patih dance: A manifestation of the beginning of human life in the Malang Mask Puppet’s world. KnE Social Sciences, 456–469. https://doi.org/10.18502/kss.v4i12.7619

Yusuf Sukman, J. (2017). Эпидемиологическая безопасность. Вестник Росздравнадзора, 4, 9–15.

Zackaria, R. F., Eddy, I. W. T., & Wirasmini Sidemen, I. A. (2019). Seblang: Sebuah ritual tari di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tahun 1990–2017. Humanis, 23(4), 298. https://doi.org/10.24843/jh.2019.v23.i04.p07

Downloads

Published

2025-03-01

How to Cite

Cahyaningrum, P. N., Wahyuningtyas, T., & Pristiati, T. (2025). Makna Simbolik Gerak Tari Pedhanyangan Kapal Kandas pada Ritual Bersih Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Journal of Language Literature and Arts, 5(3), 285–298. https://doi.org/10.17977/um064v5i32025p285-298

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>