Tingkatan Makna Verba Prostitusi dalam Wacana Iklan Prostitusi Modern
DOI:
https://doi.org/10.17977/um064v1i42021p437-449Keywords:
verba prostitusi, pembeda makna, tingkatan makna, wacana iklan, iklan prostitusi modernAbstract
Abstract: The meaning of prostitution is generally attached to sexual services around paid intercourse. However, the meaning of prostitution has expanded based on data about modern prostitution advertisements through Twitter social media. This research is a qualitative descriptive study that uses modern prostitution advertising discourse as data sourced from social media Twitter. Data collection was carried out from February 2 to March 15, 2021. After the data is collected, five steps are carried out, namely: (1) recording the verb prostitution, (2) writing down the abbreviation for the verb prostitution, (3) providing meaning, (4) finding the differentiating factor in the field of meaning, and (5) giving the level of the verb prostitution. Through matrix data analysis, 44 prostitution verbs have been graded based on eight different meaning factors, namely (1) Incall, (2) outcall, (3) Talking, (4) Laughing, (5) Relaxing, (6) Caring, (7) Ditemenin curhat, (8) Curhat, (9) Talk cutiepie, (10) Bacain dongeng sebelum tidur, (11) Deeptalk, (12) Healing, (13) Touching, (14) Nokiss, (15) Nosex, (16) Mutualisme, (17) Mutualan, (18) Pacar Kontrak, (19) GFE, (20) Professional cuddler, (21) Cuddle only, (22) hug, (23) Cuddle, (24) Pelukan, (25) Cuddling, (26) Cuddlecare, (27) Deephug, (28) Cudlle care, (29) Cc, (30) Sekadar dusel, (31) Sleeping, (32) Kissing, (33) FK, (34) foreplay, (35) HJ, (36) BJ, (37) Lc, (38) Love care, (39) LC berfantasi, (40) VCS, (41) SL, (42) HS, (43) Morning sex, dan (44) LT. The level of meaning is based on the order from the lightest meaning to the one with the most complex level of prostitution.
Keywords: prostitution verbs, differentiators of meaning, levels of meaning, advertising discourse, modern prostitution advertisements.
Abstrak: Makna prostitusi pada umumnya dilekatkan dengan layanan seksual seputar hubungan badan yang berbayar. Akan tetapi, makna prostitusi ternyata meluas berdasarkan data wacana iklan prostitusi modern melalui media sosial twitter. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi kualitatif yang menjadikan wacana iklan prostitusi modern sebagai data yang bersumber dari media sosial twitter. Pengambilan data dilakukan sejak 2 Februari hingga 15 Maret 2021. Setelah data dihimpun, dilaksanakan lima Langkah, yakni: (1) mencatat verba prostitusi, (2) menuliskan kepanjangan dari singkatan verba prostitusi, (3) memberikan pemaknaan, (4) menemukan faktor pembeda medan makna, dan (5) memberi tingkatan verba prostitusi. Melalui analisis data matrix, diperoleh 44 verba prostitusi yang telah digradasi berdasarkan delapan faktor pembeda makna, yakni (1) saluran, (2) lisan, (3) sentuhan, (4) interaksi, (5) pelukan, (6) rebahan, (7) bibir, dan (8) seksual. Adapun 44 verba prostitusi meliputi (1) Incall, (2) outcall, (3) Talking, (4) Laughing, (5) Relaxing, (6) Caring, (7) Ditemenin curhat, (8) Curhat, (9) Talk cutiepie, (10) Bacain dongeng sebelum tidur, (11) Deeptalk, (12) Healing, (13) Touching, (14) Nokiss, (15) Nosex, (16) Mutualisme, (17) Mutualan, (18) Pacar Kontrak, (19) GFE, (20) Professional cuddler, (21) Cuddle only, (22) hug, (23) Cuddle, (24) Pelukan, (25) Cuddling, (26) Cuddlecare, (27) Deephug, (28) Cudlle care, (29) Cc, (30) Sekadar dusel, (31) Sleeping, (32) Kissing, (33) FK, (34) foreplay, (35) HJ, (36) BJ, (37) Lc, (38) Love care, (39) LC berfantasi, (40) VCS, (41) SL, (42) HS, (43) Morning sex, dan (44) LT. Sementara kedelapan faktor pembeda makna mencakup (1) saluran, (2) lisan, (3) sentuhan, (4) interaksi, (5) pelukan, (6) rebahan, (7) bibir, dan (8) seksual. Tingkatan makna tersebut berdasarkan urutan dari makna yang paling ringan hingga yang memiliki tingkat prostitusi paling kompleks.
Kata kunci: verba prostitusi, pembeda makna, tingkatan makna, wacana iklan, iklan prostitusi modern
References
Abidin, Z. (2017). Pemeringkatan makna membawa dalam Bahasa Bonai Dialek Ulakpatian. Madah, 8(1), 65-76.
Bruns, A., & Moe, H. (2014). Structural layers of communication on Twitter. In Weller, Katrin, Bruns, Axel, Burgess, Jean, Mahrt, Merja, & Puschmann, Cornelius (Eds.) Twitter and Society. Peter Lang, New York, pp.15-28
Commenge, O. (1897). La Prostitution clandestine à Paris. Paris.
Cornelison, L. J., & Doll, G. M. (2013). Management of sexual expression in long-term care: Ombudsmen’s perspectives. The Gerontologist, 53(5), 780-789.
Davidson, J. O. (2007). Prostitution. The Blackwell Encyclopedia of Sociology.
bahasa. Tamrinat: Jurnal Pembelajaran dan Pengajaran, 1(1), 38-45.
Drench, M. E., & Losee, R. H. (1996). Sexuality and sexual capacities of elderly people. Rehabilitation Nursing, 21(3), 118–123. doi:10.1002/j.2048-7940.1996.t601689.x
Endang, A., Hanye, P., & Susilo, F. (2013). Medan makna verba mengambil dalam bahasa Dayak Banyadu. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 2(3).
Grov, C., Rodríguez-Díaz, C. E., Jovet-Toledo, G. G., & Parsons, J. T. (2015). Comparing male escorts' sexual behaviour with their last male client versus non-commercial male partner. Culture, health & Sexuality, 17(2), 194-207.
Grov, C., T. J. Starks, M. M. Wolff, M. D. Smith, J. A. Koken, and J. T. Parsons. (2014). Patterns of client behavior with their most recent male escort: An application of latent class analysis. Archives of Sexual Behavior, doi:10.1007/s10508-014-0297-z.
Hadiansyah, D. (2017). Metafora erotis dalam “Serat Anglingdarma “. Konfrontasi: Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial, 4(2), 58-67.
Hadiyat, Y. (2017). Pola komunikasi prostitusi daring di Twitter. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Pembangunan, 18(2), 125-136.
Harian Merdeka. (16 Maret 2019). Diunduh dari https://www.merdeka.com/gaya/menurut-penelitian-ini-alasan-generasi-milenial-mulai-tak-tertarik-menikah.html.
Henskens, R., Mulder, C. L., Garretsen, H., Bongers, I., & Sturmans, F. (2005). Gender differences in problems and needs among chronic, high‐risk crack abusers: Results of a randomized controlled trial. Journal of Substance Use, 10(2-3), 128-140.
Hubbard, G., Tester, S., & Downs, M. G. (2003). Meaningful social interactions between older people in institutional care settings. Ageing and Society, 23, 99–114. doi:10.1017/S0144686X02008991
Itiel, J. (2014). Sex Workers as Virtual Boyfriends. Routledge.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2021). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/prostitusi. Jakarta
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lyons, J. (1981). Language and linguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
Mahsun. (2013). Metode penelitian bahasa tahapan strategi, metode, dan tekniknya edisi revisi. Depok: Rajawali Press
Nanik. (2015). Aku perempuan yang berbeda dengan perempuan lain di jamanku: Aku bisa bahagia meski aku tidak menikah. Dipresentasikan dalam seminar nasional positive psychology. Surabaya: Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala.
Palmer, L. R. (1988). The Latin language. University of Oklahoma Press.
Parrillo, Vincent N. (2005). Contemporary social problems. Boston: Pearson.
Subet, M. F., & Daud, M. Z. (2019). Makna denotatif dan konotatif dalam slanga pelacur. MALTESAS Multi-Disciplinary Research Journal (MIRJO), 3(1): 29-43.
Sudaryanto. (2015). Metode dan aneka teknik analisis bahasa pengantar penelitian wahana kebudayaan linguistik. Sanata Dharma University Press: Yogyakarta.
Sukmana, O., & Sari, R. (2017). Jaringan sosial praktek prostitusi terselubung di kawasan wisata Kota Batu. Sosio Konsepsia, 6(2), 155-166.
Suyanto, B., & Narwoko, D. J. (2017). Sosiologi teks pengantar dan terapan (edisi 2).
Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia. (2021). Badan Pengembangan dan Pembinaan bahasa kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diunduh dari http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/prostitusi.
Ullmann, S. (2019). Semantics. De Gruyter Mouton.
Winarno, S. (5 November 2019). Waspada *Startup* Prostitusi. Arsip Publikasi Ilmiah Biro Administrasi Akademik. Opini Malang Pos.
Zulfahita, Z., Yanti, L., & Purnamawati, E. (2019). Analisis komponen makna verba “menyakiti” dalam bahasa melayu dialek sambas (Kajian semantik). JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), 4(2), 104-109
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.























