Penggunaan Leaflet sebagai Media untuk Meningkatkan Kesadaran Remaja tentang Pergaulan Bebas di Kampung Sempu RT 04 RW 01 Desa Pasir Gombong
Keywords:
adolescents, free association, peer influence, moral education, parental guidance, pergaulan bebas, pengawasan orang tua, pengaruh teman sebaya, edukasi moralAbstract
Abstract: Adolescence is a crucial phase in individual development marked by physical, mental, and social changes. At this stage, adolescents are searching for their identity and are heavily influenced by their environment, particularly peers and the media. One concerning issue is promiscuity, a social interaction that deviates from norms such as casual sex, drug use, and juvenile delinquency. This study aims to determine adolescents' views on promiscuity, its causes, impacts, and prevention efforts. The method used was descriptive quantitative through an online questionnaire to 40 adolescents. 85 percent of respondents considered promiscuity to be deviant behavior, while the rest saw it as a relationship without limits. The main triggering factors were lack of parental supervision (70 percent), peer influence (65 percent), curiosity (60 percent), and easy access to negative content (45 percent). The impacts include sexually transmitted diseases, declining academic performance, psychological disorders, and family conflict. Respondents considered effective solutions to include positive activities, moral and religious education, parental involvement, limiting negative media, and early education. Preventing promiscuity requires synergy between families, schools, communities, and the government.
Abstrak: Masa remaja adalah fase penting dalam perkembangan individu yang ditandai oleh perubahan fisik, mental, dan sosial. Pada tahap ini, remaja sedang mencari jati diri dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama teman sebaya dan media. Salah satu isu yang mencemaskan adalah pergaulan bebas, yakni interaksi sosial yang menyimpang dari norma seperti seks bebas, narkoba, dan kenakalan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan remaja terhadap pergaulan bebas, penyebab, dampak, serta upaya pencegahannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui kuesioner daring kepada 40 remaja. Sebanyak 85 persen responden menganggap pergaulan bebas sebagai perilaku menyimpang, sedangkan sisanya melihatnya sebagai hubungan tanpa batas. Faktor pemicu utama adalah kurangnya pengawasan orang tua (70 persen), pengaruh teman sebaya (65 persen), rasa ingin tahu (60 persen), dan mudahnya akses konten negatif (45 persen). Dampaknya meliputi penyakit menular seksual, prestasi menurun, gangguan psikologis, dan konflik keluarga. Responden menilai solusi efektif mencakup aktivitas positif, pendidikan moral dan agama, keterlibatan orang tua, pembatasan media negatif, serta edukasi dini. Pencegahan pergaulan bebas memerlukan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
References
Aisyah, S., & Sari, D. P. (2021). Peran Keluarga dalam Mencegah Perilaku Seks Bebas pada Remaja. Jurnal Kesejahteraan Sosial, 20(1), 34–42. https://doi.org/10.24843/jks.2021.v20.i01.p04
BPS. (2024). Jumlah Kasus Penyakit Menurut HIV/AIDS. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjMwIzI=/jumlah-kasus-baru-aids-dan-kasus-kumulatif-aids.html
Andriani, M. (2022). Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Remaja di Sekolah Menengah Atas. Jurnal Psikologi Remaja, 9(2), 55–67.
Darnoto., & Dewi, H. T. (2020). Pergaulan bebas remaja di era milenial menurut perspektif pendidikan agama Islam. Jurnal Tarbawi, 17(1). https://doi.org/10.34001/tarbawi.v17i1.1189
Fauziah, N., & Puspita, D. R. (2023). Pendidikan Moral dalam Mengatasi Pergaulan Bebas Remaja. Jurnal Pendidikan Karakter, 13(1), 87–95. https://doi.org/10.21831/jpk.v13i1.45671
Hurlock, E. B. (2002). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi 5). Erlangga.
Ismail, R., & Saputra, M. (2020). Dampak Seks Bebas dan Penyakit Menular Seksual pada Remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(3), 120–129.
Kementrian Kesehatan RI. General situation of HIV/AIDS and HIV test. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2022. p. 1–12. https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_TW_1_2022.pdf
Kristiyono, R. (2023). Pencegahan Pergaulan Bebas Melalui Pendidikan Keluarga. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 5(2), 44–53.
Launuru, Muhammad Idul dkk., (2024). Bahaya Pergaulan Bebas pada Remaja Dusun Mamua Desa Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Bahaya Pergaulan Bebas pada Remaja Dusun Mamua Desa Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 23782–23790. Retrieved from https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/15504
Maulana, A. F., & Sari, A. M. (2021). Efektivitas Penyuluhan Remaja dalam Meningkatkan Pemahaman Bahaya Pergaulan Bebas. Jurnal Promkes, 9(1), 13–22.
Setiawan, Y., & Handayani, T. (2023). Pengaruh Peer Group terhadap Perilaku Sosial Remaja. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(2), 100–109. https://jurnal.unpad.ac.id/jppm/article/view/49286/0
Verkuyten, M. (2018). Religious Fundamentalism and Radicalization among Muslim Minority Youth in Europe. European Psychologist, 23, 21-31. https://doi.org/10.1027/1016-9040/a000314
World Health Organization. (2022). Adolescent health. https://www.who.int/health-topics/adolescent-health
Yuliana, S. (2020). Strategi Guru BK dalam Mencegah Seks Bebas di Kalangan Remaja SMA. Jurnal Bimbingan Konseling, 4(2), 56–64.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dewi Agustin, Neng Sofa Sofariyah, Afifah Alwan, Dede Sulchah, Tasya Andita, Leysha Anggitha, Yulianti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 Generic License.


3.png)
1.png)
1.png)


