STRATEGI PENGEMBANGAN DESA WISATA BURUNG HANTU TYTO ALBA TLOGOWERU SEBAGAI DAYA TARIK WISATA MINAT KHUSUS
DOI:
https://doi.org/10.17977/um063.v4.i12.2024.5Keywords:
Strategi Pengembangan, FGD, SWOT, Pariwisata, Desa wisataAbstract
Desa Tlogoweru ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan Surat Keputusan Bupati Demak Nomor 556/325 Tahun 2020. Meski sudah ditetapkan sebagai desa wisata, pengelolaan Desa Tlogoweru sebagai desa wisata masih belum maksimal. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan alternatif strategi pengembangan yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik depth interview, FGD terbatas dan pengamatan langsung. Pihak informan yang dipilih pada penelitian ini merupakan pihak yang dianggap tahu dan memahami persoalan yang diteliti. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Analisis SWOT berguna untuk menentukan strategi pengembangan wisata Desa Tlogoweru. Berdasarkan analisis SWOT dalam menentukan strategi pengembangan Desa Tlogoweru strategi yang diperoleh yaitu strategi ST. Strategi ST merupakan perpaduan faktor kekuatan dan ancaman. Berdasarkan hasil dari analisis grand strategy Desa Wisata Tlogoweru berada di berada di Kuadran II, Posisi ini menunjukan pengembangan dari Desa Wisata Tlogoweru perlu mendukung strategi diversifikasi. Berbagai ancaman yang dihadapi desa wisata ini tidak banyak memberi masalah karena desa ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang cocok untuk diterapkan adalah menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi. Prioritas strategi yang perlu dilakukan adalah pengemasan daya tarik wisata minat khusus dengan lebih menonjolkan sisi keunikan destinasi untuk kegiatan wisata minat khusus, meningkatkan promosi, perbaikan Aksesibilitas, Melibatkan Warga dalam Pengelolaan potensi wisata peternakan dan perikanan serta pertanian.
Tlogoweru Village is a village designated as a tourist area by the Demak Regency Government, the Demak Regency Government through Demak Regent Decree Number 556/325 of 2020 has determined Tlogoweru village as a tourist village. Although it has been designated as a tourist village, the management of Tlogoweru Village as a tourist village is still not optimal. Therefore, the aim of this study is to determine the main types of tourism and the appropriate alternative development strategies. This research uses a descriptive research method. Data was collected using depth interview techniques, limited FGD and direct observation. The informants selected in this study are parties who are considered to know and understand the problems being studied. The data analysis technique used in this research is descriptive qualitative analysis and SWOT analysis. SWOT analysis is useful for determining the tourism development strategy of Tlogoweru Village. Based on the SWOT analysis in determining the Tlogoweru Village development strategy, the strategy obtained is the ST strategy. ST strategy is a combination of strength and threat factors. Based on the results of the grand strategy analysis, the Tlogoweru Tourism Village is in Quadrant II, this position shows that the development of the Tlogoweru Tourism Village needs to support a diversification strategy. The various threats faced by this tourist village are not much of a problem because this village still has internal strength. A suitable strategy to implement is to use all strengths to take advantage of long-term opportunities by means of a diversification strategy. The priority strategy that needs to be done is packaging special interest tourist attractions by highlighting the uniqueness of the destination for special interest tourism activities, increasing promotions, improving accessibility, involving residents in managing the potential for livestock and fisheries tourism as well as agriculture.
References
Arida, S., & Pujani, K. (2017). Kajian penyusunan kriteria-kriteria desa wisata sebagai instrumen dasar pengembangan desa wisata. Jurnal Analisis Pariwisata, 17(1).
Atmoko, T. P. H. (2014). Strategi pengembangan potensi desa wisata Brajan Kabupaten Sleman. Media Wisata, 12(2).
Badan Pusat Statistik (BPS). (2018). Data jumlah penduduk usia kerja.
Bappeda Kabupaten Demak. (2019). Rencana induk pengembangan pariwisata (RIPP) Kabupaten Demak.
Brahmanto, E., & Hamzah, F. (2017). Strategi pengembangan Kampung Batu Malakasari sebagai daya tarik wisata minat khusus. Media Wisata, 15(2).
Cornelis, C. A. E., Fanggidae, A. H., & Timuneno, T. (2019). Strategi pengembangan objek wisata alam Gunung Fatuleu. Journal of Management: Small and Medium Enterprises (SMEs), 8(1), 117–132.
Dewi, R., & Sandora, M. (2019). Analisis manajemen strategi UIN Suska Riau dalam mempersiapkan sarjana yang siap bersaing menghadapi MEA. Jurnal El-Riyasah, 10(1), 74–91.
Dinas Pariwisata. (2018). Katalog pesona wisata Demak Kota Wali. Demak: Dinas Pariwisata Kabupaten Demak.
Fitri, N. (2017). Pemanfaatan burung hantu oleh petani di desa wisata “Tyto Alba” Tlogoweru Demak.
Hadiwijoyo, S. S. (2012). Perencanaan pariwisata perdesaan berbasis masyarakat. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hananiel, P. (2018). Perancangan destinasi branding desa Tlogoweru sebagai desa wisata edukasi.
Harsanti, A. D. (2017). Taman wisata edukatif dan penangkaran burung hantu di Demak dengan pendekatan arsitektur ekologis (Skripsi). Universitas Negeri Semarang.
Hermawan, H. (2017). Pengaruh daya tarik wisata, keselamatan, dan sarana wisata terhadap kepuasan serta dampaknya terhadap loyalitas wisatawan: Studi community-based tourism di Gunung Api Purba Nglanggeran. Media Wisata, 15(1).
Ikhwanto, D. (2019). Pengelolaan sumber daya manusia di desa wisata Tlogoweru Kecamatan Guntur Kabupaten Demak. Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata, 15(3).
Muliawan, H. (2008). Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat konsep dan implementasi.
Nalayani, N. N. A. H. (2016). Evaluasi dan strategi pengembangan desa wisata di Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA).
Ningsih, K., & Hamamah. (2014). Matriks internal factor evaluation (IFE) dan external factor evaluation (EFE) buah naga organik (Hylocereus undatus), 14–27.
Palupi Ningtyas, D., Mistriani, N., & Wijoyo, T. A. (2020). Analisis lingkungan internal dan eksternal pariwisata dalam meningkatkan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Jurnal Manajemen STIE Muhammadiyah Palopo, 6(1), 43–49.
Priyanto, P. (2016). Pengembangan potensi desa wisata berbasis budaya tinjauan terhadap desa wisata di Jawa Tengah. Jurnal Vokasi Indonesia, 4(1).
Purnomo, C. (2008). Efektifitas strategi pemasaran produk wisata minat khusus Gua Cerme, Imogiri, Bantul. Jurnal Siasat Bisnis, 12(3), 187–197.
Rangkuti, F. (2017). Teknik membedah kasus bisnis analisis SWOT.
Sidik, F. (2015). Menggali potensi lokal mewujudkan kemandirian desa. JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, 19(2), 115–131.
Susilowati, E., & Purnaweni, H. (2020). Analisis pengembangan pariwisata Kabupaten Demak. Dialogue: Jurnal Ilmu Administrasi Publik, 2(1), 66–80.
Susyanti, D. W., & Latianingsih, N. (2017). Potensi desa melalui pariwisata pedesaan. Ekonomi dan Bisnis, 12(1), 33–36.
Thalia, Z., Warto, & Sugiyarti, R. (2011). Pengembangan wisata budaya berbasis wisata ziarah sebagai wisata minat khusus di Kabupaten Karanganyar. Program Studi Kajian Budaya Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, 91–99.
Widhiarini, N. M. A. N., Oktavian, P. E., & Permanita, N. P. F. D. (2019). Arsitektur tradisional Bali pada bangunan puri sebagai daya tarik wisata minat khusus dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bali. Pusaka (Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event), 1(2), 46–52.
Wilson, S., Fesenmaier, D. R., Fesenmaier, J., & Van Es, J. C. (2001). Factors for success in rural tourism development. Journal of Travel Research, 40(2), 132–138.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
3.png)
1.png)
1.png)

